Darah Kental Picu Jantung Koroner?
ISTILAH kekentalan darah cukup sering terdengar dalam kaitannya dengan penyakit jantung. Mengapa darah bisa mengental dan bisa memicu penyakit jantung?
Sudah tiga hari belakangan ini Marina, 55, terlihat murung. Rupanya dia gelisah memikirkan David, 60, sang suami yang tengah tergolek lemah di ICU sebuah rumah sakit swasta di Jakarta karena sakit jantungnya kambuh. “Seminggu terakhir dia (David) kesulitan tidur dan sering mengeluh nyeri dada. Kadang berjalan juga harus dipapah. Kata dokter, saat ini darah suami saya mengental, jadi harus disuntik obat pengencer darah,” tutur wanita yang berdomisili di kawasan Senen, Jakarta Pusat.
Istilah darah kental atau kekentalan darah tak jarang kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Manakala kondisi ini menunjukkan adanya agregasi dalam pembuluh darah, orang sering kali salah mengidentikkan kekentalan darah sebagai suatu keadaan darahnya dalam kondisi kental.
Dokter sekaligus pengamat kesehatan, dr Handrawan Nadesul, mengungkapkan, selama ini dalam masyarakat memang acapkali terdapat kekeliruan pengertian tentang terminologi kekentalan darah. Selama ini orang mengira yang dimaksud kekentalan darah itu manakala hasil pemeriksaan keping darah (trombosit) atau sel platelet menunjukkan angka tinggi. Padahal, kekentalan darah mengacu pada proses atau kerentanan terbentuknya agregasi dalam pembuluh darah yang diperankan aktivitas sel pembeku darah bernama trombosit beserta pendukungnya, yakni sistem pembekuan darah.
“Kekentalan darah disebabkan proses pembekuan yang terlalu cepat atau disebut agregasi. Orang yang memiliki ‘bakat’ ini bisa mudah beku darahnya. Namun, hal ini tidak sama dengan tingginya trombosit, yang mana orang yang trombositnya berlebih belum tentu mengalami kekentalan darah,” ungkapnya dalam talkshow bertajuk “Kekentalan Darah dan Penyakit Jantung” yang diselenggarakan Sun Hope Indonesia di Jakarta, belum lama ini.
Handrawan mengungkapkan, orang dengan agregasi tinggi berisiko terkena penyakit jantung koroner (PJK) atau stroke. Perlu dicatat bahwa terjadinya agregasi tidak hanya disebabkan faktor pembeku darah, melainkan juga sel-sel yang rusak dan tingginya lemak darah (lipid) yang dapat dibuktikan melalui cek kolesterol. Makin tinggi kadar lipid dalam darah, makin kental sifat darah.
“Penyebab PJK itu multifaktorial. Adanya kuman tertentu yang mengalir dalam pembuluh darah, juga dapat berperan dalam terbentuknya ?karat’ lemak pada dinding pembuluh darah,” katanya.
Bagaimana sebenarnya terjadinya proses agregasi yang lantas berujung pada penyakit mematikan semacam PJK ataupun stroke? Pada orang-orang tertentu yang berisiko, pembuluh darahnya sangat rentan akan pembentukan tumpukan “karat” lemak yang antara lain diperankan oleh kerja trombosit atau sel platelet, selain sel busa, sel lemak, dan kuman. Tumpukan “karat” atau plak ini disebut thrombus, dan sewaktu-waktu bisa saja luruh, lalu hanyut bersama aliran darah (selanjutnya disebut embolus). Nah, embolus inilah yang akan tersangkut di pembuluh darah otak hingga menjadi stroke,atau di pembuluh darah koroner jantung menjadi serangan jantung.
“Jantung dan otak itu paling sensitif dan peka terhadap kekurangan oksigen. Dengan terhambatnya aliran darah, pasokan oksigen juga berkurang sehingga otak ataupun otot jantung ‘menjerit’. Ini bisa ditandai dengan nyeri dada yang menyebar ke punggung, yang juga bisa dijadikan indikasi awal PJK,” papar dokter yang telah menelurkan karya lebih dari 70 buku itu.
Lebih lanjut Handrawan menambahkan, sumbatan pada pembuluh darah bisa juga terjadi akibat tumpukan “karat”lemak pada dinding pembuluh darah sudah sangat menggunung sehingga menyumbat total aliran darah. Terbentuknya “karat” lemak ini disebabkan banyak faktor, di antaranya sel platelet dan hadirnya radikal bebas. Salah satu unsur lemak yang patut diwaspadai adalah si lemak jahat, yakni kolesterol LDL (low density lipoprotein).
“Lemak tinggi, trigliserid tinggi dan kolesterol tinggi harus diwaspadai. Pada orang yang berisiko terkena penyakit jantung dan stroke, kadar LDL-nya harus jauh lebih rendah dibandingkan normalnya orang sehat,” saran dia. Adapun beberapa golongan orang yang berisiko tinggi stroke dan penyakit jantung adalah mereka yang bertekanan darah tinggi (hipertensi), lipid darah meninggi, kencing manis (diabetes), serta faktor tidak langsung seperti kegemukan, perokok dan stres.
Hingga kini PJK dan stroke masih menjadi momok menakutkan bagi siapa pun. Namun, kedua penyakit ini umumnya terbentuk melalui proses bertahun-tahun. Jadi, bagi Anda yang masih muda dan sehat, segeralah berbenah diri dengan melakukan pencegahan dengan meniadakan semua faktor risiko.
Salah satu caranya adalah mengubah gaya hidup (lifestyle) dan pola makan. Seperti kita ketahui, manusia modern saat ini sangat rentan mengalami kegemukan dan obesitas yang disebabkan konsumsi junk food dan makanan instan, serta kurangnya aktivitas fisik.
Terkait makanan, nutrisionis dari Sun Hope Indonesia, Fatimah Syarief, mengingatkan, protein dan karbohidrat yang dipanaskan dalam suhu tinggi dapat berubah menjadi asam lemak trans yang tidak baik bagi kesehatan jantung.
“Makanlah lemak yang baik seperti yang bersumber dari ikan. Omega 3-EPA dan DHA dalam minyak ikan juga membantu menjaga agar darah tidak gampang membeku. Selain itu, sayuran dan buah sebaiknya dikonsumsi setiap hari,” tandasnya.
sumber : okezone.com
























































