Arsip untukDesember 27, 2008

Asma, Masalah Pernafasan dan Alergi

Asma, Masalah Pernafasan dan Alergi

Bagi mereka yang menderita asma akut, kegiatan-kegiatan yang tergolong mudah seperti naik tangga atau piknik dapat mengakibatkan kesulitan dalam bemafas. Asma adalah suatu kondisi kronis yang diderita oleh lebih dari 17 juta penduduk Amerika dan terus bertambah. Penelitian-penelitian telah menunjukkan peningkatan kasus asma di Amerika sekitar 75% antara tahun 1980 dan 1994. Sebagai tambahan, 90% dari kematian yang diakibatkan oleh asma terjadi pada orang-orang yang berusia lanjut dan mayoritasnya adalah wanita. Kebanyakan kematian akibat asma tersebut dapat dicegah.

Di dalam paru-paru penderita asma, saluran pemafasan yang disebut bronkiolis mengerut secara tidak normal saat dipicu oleh beberapa hal seperti pencetus alergi, infeksi ataupun olah raga, yang kemudian akan menyebabkan sulitnya pengeluaran udara dari paru-paru. Banyak penelitian telah menghubungkan alergi dengan asma meskipun tidak semua penderita asma mempunyai alergi dan tidak semua orang yang alergi menderita asma. Beberapa gejala utama dari asma adalah nafas yang terengah-engah, tidak sanggup menghirup nafas dengan baik, adanya riak atau lendir dan kehilangan energi. Bahkan dalam kasus asma yang paling ringan pun terjadi peradangan pada paru-paru yang dapat mengarah kepada masalah lain seperti infeksi pada sistem pemafasan.

Pengaruh keturunan nampaknya menjadi salah satu Penyebab utama timbulnya asma. Bagaimanapun terdapat pencetus-pencetus lain yang dapat diidentifikasi. Asma dapat disebabkan oleh alergi, olah raga, infeksi virus dan bakteri, hormon, stres dan pencetus lainnya. Sebuah catatan menarik yaitu 30% hingga 40% dari penderita wanita mengalami gejala-gejala astma yang berfluktuasi saat periode menstruasi mereka tiba.

Apapun yang menjadi pencetus asma, suatu tambahan makanan seperti noni juice dapat membantu meringankan gejala-gejala yang berat dengan meningkatkan serta mengatur sistem kekebalan tubuh dan struktur sel dari bronkiolis. Hal ini,  dikarenakan nutrasetikal dalam paket-paket yang dikirimkan oleh Golgi appartus dan retikolon kepada sel-sel yang “sakit”

Dari sebuah penelitian memperlihatkan selain asma, gejala-gejala alergi (seperti hidung yang berair, mata yang gatal, bengkak yang disertai gatal-gatal dan bahkan eksim) juga tertolong pada orang-orang yang meminum noni. Selain itu, penyakit pemafasan lain di luar asma juga tertolong oleh noni. Infeksi pada paru-paru, bronkitis dan radang paru-paru merupakan semua penyakit yang dapat menyerang seseorang yang tidak menderita asma. Radang paru-paru misalnya dapat terjadi karena tiga puluh penyebab. Lima penyebab utamanya adalah bakteri, virus, mikroplasma, jamur dan beberapa kemikal lainnya. Karena noni bekerja di tingkat selular, apapun penyebab radang paru-paru tersebut, maka noni memiliki kemampuan untuk menguatkan sel-sel paru-paru yang menjadi lemah dan meningkatkan kemampuan tubuh secara alami untuk mengusir penyebabnya.

sumber : asma

Mengenal Diabetes Tipe I & II

Mengenal Diabetes Tipe I & II

Banyak orang terkesima saat mengetahui bahwa diabetes merupakan pembunuh terbesar ketiga di negara ini (Amerika Serikat -Red) setelah penyakit Jantung dan kanker. Untungnya, banyak efek-efek dari diabetes yang dapat dikendalikan. Meskipun penyakit itu tidak tersembuhkan, namun penelitian-penelitian memperlihatkan bahwa dengan mempertahankan kadar gula seseorang sedemikian rupa mendekati batas normal maka komplikasi-komplikasi jangka panjang akibat diabetes seperti serangan jantung, gagal ginjal dan kebutaan akan dapat dikurangi secara signifikan. Tubuh penderita diabetes sendiri tidak mampu untuk mengolah makanan menjadi energi. Inti permasalahannya adalah kernampuan tubuh dalam memproduksi dan menggunakan hormon insulin secara baik. Sel beta dalam pankreas yang memproduksi insulin. Terdapat dua jenis diabetes: Tipe I dan Tipe II. Pada diabetes Tipe I, tubuh hanya sedikit atau bahkan tidak mampu memproduksi insulin. Kondisi ini sering disebut sebagai diabetes kaum muda karena biasanya muncul pada usia muda dan lebih akut. Pada diabetes tipe II, tubuh mampu memproduksi insulin secukupnya (terkadang bahkan lebih dari cukup). Namun, insulin yang diproduksi tidak dapat diserap oleh sel tubuh untuk memecah gula menjadi energi. Pada diabetes tipe II, tubuh juga mengalami masalah dalam menggunakan lemak dan protein secara baik. Dari sernua jenis diabetes hampir 90% adalah diabetes tipe II. Kondisi ini sering disebut sebagai diabetes ‘usia-lanjut’.

Gejala-gejala dari kedua tipe diabetes tersebut serupa. Yang paling umum antara lain: kekurangan energi, mudah lapar, sering buang air kecil, rasa haus yang berlebihan, pandangan yang kabur, mual, rasa sakit di bagian perut, ketidaknyamanan dan merasa lemah. Tipe I sering dikaitkan dengan turunnya berat badan. Sedangkan tipe II sering dikaitkan dengan penambahan berat badan.

Meskipun kita tahu bahwa diabetes dalam berbagai situasi adalah penyakit keturunan namun para ilmuwan tidak mengetahui dengan pasti penyebabnya, kemungkinannya karena sistem endokrin dan kekebalan tubuh yang tidak berfungsi dengan baik.

Riset memperlihatkan bila sistem kekebalan tubuh mulai berbalik menyerang diri sendiri – kemungkinan karena gangguan otoimunitas – maka sel beta dalam pankreas akan rusak atau setidaknya jumlah sel beta yang berfungsi dengan baik akan berkurang. Hal ini tentu akan mempengaruhi jumlah, kemurnian dan efektifitas dari insulin dalam tubuh. Namun bila sistem kekebalan tubuh sanggup menghalau serangan tersebut maka integritas dari insulin tubuh akan dapat dipertahankan.

Serangkaian tes yang ada saat ini telah memungkinkan untuk mendeteksi kegagalan anti bodi -anti bodi dalam darah sejak dini pada orang-orang yang menunjukkan gejala terserang diabetes. Pada beberapa orang dewasa, antibodiantibodi yang merusak ini dapat muncul bertahun-tahun sebelum gejala-gejala diabetes timbul. Jenjang waktu ini disebut sebagai “tahap pre-diabetes.” Tahapan ini juga ditemui pada penyakit-penyakit gangguan endokrin lainnya seperti Hashimoto’s Thyroiditis dan penyakit Addison (kekurangan adrenalin). Gabungan dari keduanya dikenal sebagai Sindrom Schmidt.

sumber : diabetes